Masa Depan Cerah Bisnis Digital Indonesia

market published over a year ago




Seiring terus berkembangnya pembangunan jaringan akses internet di Indonesia, seperti yang terus dilakukan oleh Telkomsel melalui jaringan seluler, bisnis digital punya masa depan yang cerah. Tinggal bagaimana kita bisa mengolahnya saja.

Menurut Ketua Tim Pelaksana Dewan TIK Nasional, Ilham Akbar Habibie, pasar konten berbasis mobile di Indonesia diperkirakan menembus angka USD 70 juta pada tahun 2014 ini. Sedangkan venture capital yang ada sekitar 60 dengan 20 inkubator untuk teknologi informasi komunikasi.

Konten mobile salah satu yang menjanjikan bagi Indonesia karena infrastruktur berbasis seluler di sisi akses lumayan dominan. "Akses berbasis fixed broadband hanya 8,6 juta homepass. Bandingkan dengan yang berbasis wireless, Telkomsel ada 5.200 Node B, itu baru satu operator saja," paparnya.

Sementara Menurut Head of Digital Lifestyle Group Telkomsel, Marina Kacaribu, dalam berbisnis digital skala ekonomi memegang peranan penting, baik itu trafik atau basis pelanggan. Permasalahannya adalah soal skala, siapa yang punya trafik besar, itu yang dilirik oleh pemasang iklan atau mitra lainnya.

Para pemain lokal seharusnya bisa memanfaatkan peluang yang ada sekarang agar tak ketinggalan dari pemain asing. Memang tak mudah untuk bersaing, tetapi dengan dukungan semua pihak baik itu operator atau pemerintah, startup lokal bisa saja berbuat sesuatu. Membangun ekosistem itu butuh waktu, tak bisa langsung jadi.

Seperti pernah diungkapkan oleh Eric Schmidt dari Google, Asia akan menjadi pemimpin industri mobile di dunia. Asia akan memegang kendali inovasi dan perubahan dunia. Perusahaan harus mulai berpikir bagaimana mobile berpengaruh bagi Asia dan seluruh dunia. Mulai dari pengguna ke pengembang, aplikasi mobile dan platform perangkat pintar itu sendiri.

Asia juga sudah semakin siap dengan jaringan infrastruktur. Bagaimanapun juga di beberapa benua lain seperti Afrika, jaringan masih menjadi masalah, sama halnya di Amerika Latin. Di Eropa bahkan kecepatan internet belum cukup cepat. Sebagai gambaran, data Google menujukkan 50% penonton YouTube berasal dari perangkat di Korea. Di Taiwan dan Vietnam penggunaan ponsel lebih banyak untuk mendengarkan musik bahkan jika dibandingkan negara-negara di barat.

Evolusi digital di Indonesia dalam lima tahun terakhir juga mengalami peningkatan yang cukup baik dalam mendukung kegiatan jutaan pengguna internet domestik dengan berbagai tantangannya. Hal ini sesuai dengan indeks yang dikembangkan MasterCard dan The Fletcher School di Tufts University yang memetakan negara paling siap dalam mendukung miliaran pengguna internet di masa yang akan datang.

Country Manager MasterCard Irni Palar mengungkapkan, terdapat 2,9 miliar pengguna internet di dunia. Sementara itu sektor bisnis dan pemerintahan juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan jangkauan mereka dengan membawa 60% dari populasi internet global.

Pada indeks evolusi digital 2014, Indonesia masuk ke dalam zona negara Watch Out atau negara dengan peluang dan tantangan yang cukup besar bersama Nigeria, Mesir, Filipina, Vietnam dan beberapa negara lainnya. Diperlukan terobosan dan inovasi untuk membuat pertumbuhan negara-negara yang ada di zona ini untuk tumbuh lebih jauh dan terus berkembang.

Berdasarkan indeks tersebut, sebagai negara yang masuk ke dalam kategori Watch Out, Indonesia bersama Rusia, Nigeria, Mesir dan Kenya dianggap masih memiliki ketidakstabilan kelembagaan dan kurangnya komitmen untuk melakukan reformasi digital.

Tetapi dengan kondisi geografis dan demografis yang ada membuat negara ini dianggap sangat potensial untuk bisnis dan investasi. Dalam hal kegiatan ekonomi digital, industri e-commerce domestik Indonesia masih berusaha menyerap cash untuk mengikuti perkembangan e-commerce.

Indonesia terhitung sebagai negara yang memiliki preferensi yang tinggi pada uang kartal. Karenanya cara pembayaran transaksi elektronik yang paling sering digunakan adalah bank transfer melalui ATM, untuk mengakomodasi ini, banyak website yang memberikan jeda waktu transaksi untuk menyelesaikan pembayaran via bank transfer hingga 48 jam sebelum transaksi dibatalkan.

Hal yang terjadi di Indonesia bertolak belakang dengan apa yang terjadi di China karena mereka menggunakan third-party payment vendors melalui aplikasi pada perangkat seluler mereka atau bahkan aplikasi m-commerce buatan para merchant.




WRITE COMMENT
Name* :

E-mail* :

Website :

Comment :

1 COMMENT
  • Papeda Network

    over a year ago

    mudah Mudahan samapi Ke Indonesia Timur





BLOG CATEGORIES
FEATURES

Corporate Info features
2016-06-03

Corporate Info features
2016-06-02

Corporate Info features
2016-06-01

Corporate Info features
2016-05-31

Corporate Info features
2016-05-30

ARCHIVES