Tiga Langkah Smart City: Deteksi Pahami dan Lakukan

lifestyle published over a year ago




Sedari awal kita mempercayai bahhwa suatu kota yang semakin besar seiring pertambahan jumlah penduduk akan menanggung masalah yang lebih kompleks. Maka itu, konsep smart city diperlukan sebagai solusi untuk mengatasi persoalan tersebut.

Membahas topik tersebut, The NextDev Pulang Kampung mengajak Prof Suhono Harso Supangkat dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menjelaskan kepada generasi muda mengenai pembangunan smart city.

Acara tersebut berlangsung di Universitas Diponogoro Semarang yang dihadiri oleh 177 peserta dari berbagai universitas, antara lain Universitas Stikubank Semarang, Universitas Dian Nuswantoro, Universitas Negeri Semarang, dan tentu saja Universitas Diponogoro.

Profesor Suhono mengatakan, permasalahan kota di Indonesia akan semakin kompleks. Sedangkan sumber daya dan energi akan semakin terbatas. Selama ini, solusi yang ditawarkan bersifat konvensional dan tidak cepat dalam merespon permasalahan yang kian banyak.

“Agar pembangunan kota bisa tetap berkelanjutan, solusi perlu dilakukan. Implementasi Smart City adalah solusi yang cergas, yaitu cerdas dan gegas,” tutur Suhono.

Menurut Suhono, pada dasarnya konsep smart city adalah kota yang bisa mengelola sumber dayanya termasuk sumber daya alam dan manusia, sehingga warganya bisa hidup aman, nyaman dan berkelanjutan. Teknologi Informasi dan Komunikasi sangat diperlukan untuk membantu pengelolaan tersebut.

Ia melanjutkan, konsep smart city yang bertumpu pada teknologi sebenarnya berdasar pada konsep sensing (mendeteksi), understanding (memahami), dan acting (melakukan aksi).

“Kota yang mengetahui permasalahan yang ada di dalamnya (sensing), memahami kondisi permasalahan tersebut (understanding) , dan dapat mengatur (acting) berbagai sumber daya yang ada untuk digunakan secara efektif dan efisien dengan tujuan untuk memaksimalkan pelayanan kepada warganya,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Suhono pun menjelaskan mengenai Garuda Smart City Maturity Model, suatu bentuk model yang digunakan untuk mengukur tingkat kematangan menuju smart city. Model ini sudah dipergunakan untuk mengukur 9 kota di Indonesia.

Model ini memiliki tiga indikator utama; Smart Economy, Smart Society, dan Smart Environment. Ketiga indiator itu didukung oleh tiga indikator pendukung, yaiyu ICT, Masyarakat, dan Pemerintah.

“Agar pembangunan kota bisa tetap berkelanjutan, solusi perlu dilakukan. Implementasi Smart City adalah solusi yang cergas, yaitu cerdas dan gegas,”

Untuk masing-masing indikator terdapat sub indikator atau fokus pengelolaan ICT, totalnya mencapai 12 sub indikator. Untuk Smart Society misalnya, terdapat empat sub, terdiri dari pelayanan publik, interaksi sosial secara digital, keamanan, dan kesehatan.

Smart Economy mencakup empat sub, yaitu edukasi, sumber daya, dan industri, dan pusat ekonomi/perdagangan. Sedangkan Smart Environment terdiri dari lingkungan, energi ruang publik.

Sumber: thenextdev.id




WRITE COMMENT
Name* :

E-mail* :

Website :

Comment :





BLOG CATEGORIES
FEATURES

Corporate Info features
2016-06-03

Corporate Info features
2016-06-02

Corporate Info features
2016-06-01

Corporate Info features
2016-05-31

Corporate Info features
2016-05-30

ARCHIVES