Berbagi Kantor Lewat Coworking Space

lifestyle published over a year ago




Sebelumnya kita sudah pernah membahas soal ridesharing, berbagi kendaraan, dan roomsharing, berbagi tempat tinggal. Nah, masih ada satu lagi terkait dengan hal itu, yaitu berbagi kantor.

Semua itu adalah bagian dari "ekonomi berbagi", tren yang sedang tumbuh di berbagai penjuru dunia. Benita Matofska, dari The People Who Share, mendefinisikan ekonomi berbagi sebagai berikut:

"Ekonomi berbagi adalah sebuah ekosistem sosio-ekonomi yang dibangun di atas berbagi pakai sumberdaya manusia dan fisik. Ini mencakup berbagi penciptaan, produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi dari barang serta jasa oleh berbagai orang atau organisasi."

Nah, salah satu yang tumbuh seiring dengan adopsi teknologi yang tinggi adalah coworking space. Ini merupakan sebuah konsep berbagi kantor yang sedikit berbeda dengan virtual office.

Secara "tradisional" kita mengenal virtual office, yaitu sebuah ruang kantor yang disewakan ke berbagai perusahaan dan bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

Virtual Office memberikan kemudahan berupa administrasi kantor yang terpadu yang bisa digunakan oleh semua penyewa. Ini juga menjadi sumberdaya bersama yang bisa dibagi. Namun sumberdaya yang dibagi boleh dibilang hanya sebatas itu saja.

Sedangkan coworking space memiliki perbedaan yang signifikan karena, bukan hanya saling berbagi sumberdaya, tapi juga terjadi kolaborasi di sana.

Cikal bakal Coworking space adalah konsep bernama Hackerspace, yang pertama kali muncul dalam sebuah lokasi bernama C-Base di Berlin, Jerman pada September 1995.

C-Base adalah organisasi nirlaba yang bertujuan meningkatkan kemampuan komputer dan jaringan dari anggotanya, dan masyarakat pada umumnya. Markas mereka, C-Base station, dapat digunakan bersama oleh berbagai kelompok yang memiliki tujuan sama.

Maka lokasi itu diakui sebagai hackerspace pertama, yaitu sebuah tempat kumpul-kumpul yang banyak dipakai untuk mengoprek teknologi.

Pada 1999, Bernard "Brian" DeKoven mencetuskan istilah Coworking untuk menjelaskan cara bekerja yang kolaboratif dan terkoordinasi lewat teknologi. Dalam konsep ini, semua pekerja yang hadir adalah setara, berbeda dengan kantor "tradisional" yang memiliki hirarki yang jelas.

Konsep tersebut menjadi menarik bagi para startup dan pekerja lepasan, yang memang seakan tidak memiliki hirarki dalam bekerja, tanpa atasan dan tanpa bawahan.  

Pada Januari 2002, di Wina, Austria, dibuka sebuah lokasi yang akan dikenal sebagai coworking space pertama di kota itu. Namanya adalah Schraubenfabrik (Screw Factory), yaitu sebuah "UnternehmerInnenzentrum" alias "pusat komunitas untuk entrepreneur".

Schraubenfabrik didirikan oleh Stefan Leitner-Sidl dan Michael Pöll, yang kemudian membangun tempat serupa Hutfabrik - the Hat Factory - dan Rochuspark, pada 2004 dan 2007.

Namun, tempat pertama yang diberi nama resmi sebagai coworking space baru muncul di San Francisco, pada 9 Agustus 2005. Maka banyak juga yang menyebut tanggal ini sebagai tanggal lahirnya coworking space pertama dunia.

Didirikan oleh developer bernama Brad Neuberg, coworking space ini menawarkan lokasi berjumlah sampai delapan meja, yang tersedia selama dua hari dalam satu minggu di Spiral Muse, San Francisco.

Selain tempat kerja, lokasi itu menawarkan makan siang bersama, waktu meditasi bareng, hingga jalan-jalan dengan sepeda.

Sayangnya, lokasi coworking space di Spiral Muse itu masih terbatas. Ia hanya terbuka dua hari seminggu dan tutup pukul 17:45 setiap harinya.

Baru pada 2006, sebuah lokasi coworking space full-time dibuka di San Francisco. Tempat ini dinamai The Hat Factory, nama yang sama dengan yang dibuat Sidl dan Poll di Wina pada 2004.

Meski cukup fenomenal dan boleh dibilang bersejarah bagi sebagian orang, terutama di komunitas startup digital dan pekerja lepasan, The Hat Factory San Francisco sejak 2010 telah ditutup.

Di Indonesia, konsep serupa juga telah diterapkan oleh beberapa pihak, baik yang berawal dari kebutuhan maupun motivasi lainnya.

Hackerspace BDG adalah salah satu yang cukup awal muncul di Indonesia. Coworking space ini didirikan oleh komunitas Forum Web Anak Bandung (Fowab). Di 2014 muncul sebuah coworking space penerus Hackerspace BDG bernama CO&CO.


Gambar: Comma ID, coworking space di Jakarta
Sumber: comma.co.id

Kemudian, yang cukup terkenal adalah Comma, yang didirikan pada November 2012 oleh 6 co-founder. Di antaranya adalah tokoh kondang seperti Rene Suhardono dan Yoris Sebastian. Empat co-founder lainnya adalah Ario Pratomo, Dondi Hananto, Michael Tampi dan Dodong Cahyono.


Gambar: Code Margonda, coworking space di Depok
Sumber: CodeMargonda.com

Ada juga Code Margonda, yang didirikan pada September 2013 di Depok, Jawa Barat. Coworking space yang satu ini cukup mencuri perhatian karena kerap menjadi lokasi kegiatan komunitas digital dan non-digital di Depok, termasuk komunitas developer mobile yang tumbuh pesat di Depok.


Gambar: Hubud, coworking space di Ubud, Bali
Sumber: Hubud.org

Satu lokasi coworking yang menarik adalah Hubud (Hub-in-Ubud). Berada di Bali, dengan arsitektur dan interior yang khas didominasi kayu dan bambu, Hubud bisa jadi adalah lokasi coworking paling cantik di Indonesia. Posisinya di Bali membuatnya digemari oleh pekerja mobile dari luar negeri.

Adanya lokasi coworking space yang tumbuh di berbagai kota di Indonesia itu menjadi alternatif baru akan lokasi bekerja. Bagi mereka yang biasa bekerja di Cafe, coworking space bisa jadi pilihan yang lebih baik karena bukan hanya menjanjikan tempat dan koneksi internet, tapi juga kemungkinan berkolaborasi dengan pihak lain.

Bagaimana dengan Anda, tertarik untuk bekerja di coworking space?




WRITE COMMENT
Name* :

E-mail* :

Website :

Comment :





BLOG CATEGORIES
FEATURES

Corporate Info features
2016-06-03

Corporate Info features
2016-06-02

Corporate Info features
2016-06-01

Corporate Info features
2016-05-31

Corporate Info features
2016-05-30

ARCHIVES