Apa dan Mengapa Social Media Activism

lifestyle published over a year ago




Dalam tulisan sebelumnya, kita sudah tahu lebih banyak soal Movember, sebuah gerakan yang berporos di social media untuk meningkatkan kesadaran akan risiko kesehatan pada pria, seperti kanker prostat.
 

Boleh dibilang, Movember adalah bagian dari social media activism, sebuah kegiatan sosial yang poros kegiatannya memang ada di social media.
 

Istilah itu sendiri memang tidak saklek mengacu pada jenis kegiatan tertentu. Hal ini karena, "social media activism" harus mencakup kegiatan sosial secara luas, mulai dari "umbrella movement" di Hong Kong beberapa waktu lalu, "ice bucket challenge" hingga "movember".
 

Social media activism dalam bentuk paling sederhana bisa jadi hanya sebuah cara untuk menjadikan topik tertentu masuk dalam trending topic di Twitter. Hal ini dimaksudkan agar ada perhatian lebih luas pada topik tersebut.
 

Namun Social Media Activism jangan dibatasi pada satu jenis media sosial saja. Kegiatan ini bisa saja seperti yang dilakukan dalam payung Occupy Wall Street yang sempat populer beberapa tahun lalu, yaitu menyebar di berbagai platform dan memiliki berbagai bentuk media.
 

Atau, lihat juga ALS Ice Bucket Challenge, sebuah gerakan sosial yang boleh dibilang ramai menggunakan platform YouTube karena berpusat pada aksi menyiram diri dengan air es dan menyebarkan rekaman video aksi tersebut.
 

Memang, Social Media Activism tak harus terikat pada satu platform saja. Kejadian Arab Spring beberapa tahun lalu, tersebar dengan kuat melalui Facebook. Ada juga yang menyebar lewat jejaring sosial Sina Weibo, karena memang aktivitasnya terjadi di China, di mana pengguna Sina Weibo lebih banyak daripada Twitter.
 

Satu hal yang juga perlu diperhatikan, keterlibatan kita pada Social Media Activism sejatinya tidak sekadar ikut-ikutan. Hal terbaik adalah ikut meramaikan sesuatu dengan terlebih dahulu tahu apa alasan di balik ramainya sesuatu itu.
 

Dengan melakukan penelusuran sederhana, via Google atau fungsi pencarian di media sosial seperti Facebook dan Twitter, kita bisa menemukan alasan di balik gerakan sosial tertentu. Setelah tahu apa alasannya, baru kita bisa memutuskan apakah gerakan sosial itu memang layak diramaikan atau tidak.
 

Lebih seru lagi, setelah meramaikannya lewat media sosial, bagaimana kalau mencoba melakukan sesuatu di dunia nyata? Contohnya, setelah memposting tweet dengan hashtag #prayfor diikuti nama daerah tertentu yang terkena bencana, coba sampaikan juga sumbangan dana untuk bantuan ke wilayah itu.
 

Social media activism memang seru, tapi lebih seru lagi jika diikuti dengan aksi nyata!




WRITE COMMENT
Name* :

E-mail* :

Website :

Comment :





BLOG CATEGORIES
FEATURES

Corporate Info features
2016-06-03

Corporate Info features
2016-06-02

Corporate Info features
2016-06-01

Corporate Info features
2016-05-31

Corporate Info features
2016-05-30

ARCHIVES