Developer Lokal Ayo Go Global

innovation published over a year ago




Kemampuan developer Indonesia gak kalah kok dari developer luar negeri. Termasuk saat diminta unjuk gigi di event regional atau bahkan global, aplikasi ataupun produk lokal sering dilirik investor.

Bahkan beberapa aplikasi yang bertengger di top chart app store, tak disangka adalah racikan murni putra-putri bangsa. Hanya saja lantaran namanya yang kebarat-kebaratan jadi dianggap produk asing. Padahal itu buatan developer lokal.

Namun demikian, developer lokal bukan tanpa cela. Masih banyak dari mereka yang mengulangi kesalahan yang itu-itu lagi. Jadinya, produk mereka mentok seperti para pendahulunya.

Di sini dibutuhkan keterbukaan pola pikir yang kerap disalahkaprahi oleh para developer. Misalnya, developer bergaulnya sama developer saja. Ya, gak salah sih. Cuma ilmu yang bertambah ya soal bagaimana mengembangkan suatu aplikasi saja.

Coba kalau para developer ini turut bergaul dengan orang dari bidang yang lain, justru ilmu baru yang bisa dikantonginya. Misalnya, kalau developer bergaul dengan orang marketing, mereka bisa dapat ilmu jualan dan bagaimana mengerti pasar.

Nah, isu inilah yang coba diangkat oleh Anindito Respati, Manager Mobile Apps Developer Community Telkomsel yang punya pengalaman panjang berinteraksi dengan para developer. Berikut hasil wawancara lengkapnya:


Question (Q): Sudah sejauh apa perkembangan developer lokal saat ini?

Answer (A): Di tahun 2012, Telkomsel mencanangkan Digital Lifestyle yang saat itu mulai naik. Kemudian berlanjut dengan program TemanDev (Telkomsel Application Developer) di tahun 2013, di sini kami berharap bahwa yang namanya developer dapat dibangkitkan lagi dengan bekerjasama dengan kami sebagai operator.

Tapi perjalanan ini ada kendala, di tahun 2013 -- saat kami launching  program TemanDev -- ini hype-nya bagus, banyak developer yang saya temui bilang bahwa "Oh, bisa ya kerja sama dengan operator?" Karena selama ini selalu kerjasama lewat perantara.

Tapi perjalanan ini tidak selalu mulus, karena keluarnya beberapa regulasi yang menyatakan bahwa pemilik konten termasuk mobile apps -- developer dan startup -- yang di dalamnya ada sistem potong pulsa dengan operator, wajib memiliki izin prinsip di operator.

Seiring itu akhirnya isu harus membuat izin prinsip menjadi kendala karena perlu waktu yang tak sebentar. Isu ini diakui sejumlah developer sebagai hambatan karena membuat lambat.

Namun kami sebagai operator tak bisa diam, dan memberikan solusi. Kini, lewat Telkom Grup, kami bikin beberapa solusi sehingga para developer tak lagi jadi ribet untuk urus izin prinsip.

Dan dengan kita jalan sebagai grup dengan Telkom, kemampuannya jadi lebih besar dan lebih solid untuk membantu industri kreatif ini naik.


Q: Bagaimana kemampuan developer lokal, terlebih saat dibandingkan dengan developer luar negeri?

A: Secara kemampuan, developer lokal itu cukup fantastis, karena banyak potensi-potensi lokal yang saat kita adu di luar itu bagus.

Salah satu contoh yang juga sudah kerja sama dengan Telkomsel itu Movreak. Itu kemarin kita bawa ke Singapura untuk acara startup di sana, mereka disukai, bahkan sempat dilirik beberapa investor serta bisa diimplementasikan di negara lain karena kualitas dan kemampuannya bagus. Jadi tidak malu-maluin lah.

Ada juga Hi5, buatan anak muda Indonesia juga. Di mana saat aplikasi mereka yang belum rampung seluruhnya, sudah dibeli oleh sebuah brand. Dia bikin aplikasi untuk internal, mood booster. Dibeli dalam arti kata, perusahaan itu mau berlangganan. Jadi dari sisi kualitas, kita sudah mumpuni kok.

Ada lagi PicMix yang memang sudah terkenal dan sekarang bisa dibilang sudah jadi role model bagi para aplikasi lokal. Termasuk TouchTen, mereka bikin game-game bagus dan melejit juga, dan mereka dapat suntikan dana dari perusahaan luar dengan nilainya bagus.

 
Q: Apa yang kurang dari developer Indonesia, sehingga membuat mereka sulit untuk keluar dan bisa dilirik?
 
A: Developer lokal kita masih banyak yang belum mau membuka diri dari kalangan yang bukan dari mereka. Kebanyakan yang saya temui, developer itu gaulnya sama developer lagi.

Sering kali begini, setiap mereka mau punya aplikasi bagus, bagusnya itu cuma dari sisi mereka, programmer. Mereka tidak melihat dari sisi marketingnya, market sukanya apa, mereka tak dapat insight-insight itu dari luar karena terlalu tertutup.

Dan saat kami (Telkomsel) roadshow pun yang kami bahas adalah, "Ayo developer harus terbuka, dan kenalannya jangan cuma sama developer lagi, cari dan jangan takut kalau itu akan diakui oleh orang lain".

Karena di beberapa kota itu masih banyak yang takut jika nanti aplikasi buatannya diambil atau dibajak. Jadinya aplikasi mereka tak berkembang. Nah perasaan ini yang harus dibuang jauh-jauh oleh developer.


Q: Bagaimana potensi pasar bagi aplikasi lokal? Apakah tak khawatir bakal dipinggirkan?
 
A: Potensi pasar pastinya masih besar. Kasarnya begini, operator sudah mulai hijrah dari layanan legacy mereka seperti voice, SMS dan broadband untuk lompat ke digital. Layanan legacy ini memang sudah template di setiap operator, namun kini sudah harus shifting.

Kita bicara smartphone user, Telkomsel sendiri -- bahkan di semua operator -- proporsinya masih 65% (pengguna feature phone) dan 35% (pengguna smartphone). Jadi melihat peluang smartphone juga masih tinggi, untuk didapatkan dari pengguna feature phone.

Di satu sisi semakin murah smartphone, diperlukan juga berbagai konten di dalamnya. Itulah yang kita sasar ke pelanggan kami yang kini sudah di atas 130 juta.


Q: Di luar aspek teknis, apa yang wajib diketahui oleh startup atau developer lokal?
 
A: Startup baru saat bikin proyek sebaiknya mengetahui masing-masing posisi yang diperlukan, yaitu ada tim marketing, desain dan programming. Tiga posisi ini saja dulu.

Sebab orang marketing ini yang akan mencari insight di luaran itu seperti apa, maunya pasar apa, dia yang akan melihat potensi marketnya ada di mana. Dari situ dia (orang marketing) akan bilang ke programmer, "Yuk, bikin aplikasi seperti ini".

Gambar: Anindito Respati, Manager Mobile Apps Developer Community Telkomsel


Tapi dia juga gak asal bikin, tapi harus  bikin aplikasnya jadi cantik supaya bisa dijual oleh orang marketing. Makanya perlu orang desain, sehingga bisa bikin user interface (UI) manis dan keren saat dilihat pertama kali.

Tapi kalau dari awal tidak terbagi seperti ini, saat ditaruh di app store, deskripsi previewnya cuma dibuat biasa, gak dibuat yang unik.

Jadi deskripsinya singkat dan gak bisa dijual, yang bagus itu kan deskripsinya bisa dijual. Sehingga jika dibaca orang membuatnya ingin download.

Nah, biasanya kemampuan itu ada di orang marketing karena mereka tahu pasarnya bagaimana. Kasarnya, Tuhan sudah memberi kemampuannya masing-masing. Memang, ada yang punya kemampuan end to end, tapi masih sangat jarang.

Aplikasi Facebook saja bukan Mark Zuckerberg yang menjualnya. Kalau tidak orang marketingnya yang berasal dari Napster, gak bakal sukses kok. Karena orang Napster ini yang memikirkan bisnisnya.

Mark cuma coding dan idenya. Begitu sudah jadi, ada orang yang menjual. Jadi bahkan sekelas Facebook, mereka memerlukan orang marketing untuk menjualnya.

Ini memang tantangannya, banyak pasti yang berpikir jika saat merintis startup, untuk merekrut orang marketing itu mahal.

Padahal intinya adalah bagaimana kita bisa membuka diri tadi dengan banyak kenalan sama orang dan disinergikan dengan apa yang mau kita buat. Namun yang biasa terjadi adalah, orang pada takut dulu sebelum mengerjakannya, kadang-kadang ini jadi hambatan awal sebelum jalan.


Q: Aplikasi yang menarik seperti apa sih?
 
A: Kalau dari sisi aplikasi menarik, kita tak bisa mematok harus yang gambarnya bagus. Tapi dari hal-hal yang bisa bikin penasaran.

Contoh yang secara desain grafis tidak keren itu adalah Flappy Bird. Tampilannya biasa, tapi bisa sukses karena dia bisa membuat orang kecanduan. Ini pula yang selalu saya arahkan ke teman-teman developer, yaitu bagaimana produk Anda itu bisa membuat pasar kecanduan.

Contoh yang bisa bikin kecanduan adalah sistem scoring dan share ke sosial media. Kenapa? Ketika skor saya kalah sama temen, saya akan coba lagi dan coba lagi. Ketika skor naik, tentunya saya bangga dan langsung ingin share ke sosial media.

Seperti game Candy Crush, yang memanfaatkan fitur scoring dan sharing ke sosial media sehingga bisa sukses menjaring pengguna.

Contoh lainnya Line Gets Rich yang sekarang sedang naik daun, juga karena ada sistem skor. Sampai pengguna mereka bela-belain beli token, dan di sini bisa menjual in app purchase.

Apalagi kalau kita bisa bikin in app purchase ini tidak mahal, tapi mampu menjaring jumlah yang banyak. Karena in app purchase ini kan kita yang menentukan berapa harganya. Nah, pada peraturan harganya kita juga lihat, mau mahal sekali aja atau kecil tapi sering.


Q: Lantas, apa yang telah dilakukan Telkomsel untuk mendukung para developer dan startup lokal?

A: Salah satunya adalah bekerjasama dengan Telkom Grup. Mereka punya platform baru namanya UPoint, untuk sistem potong pulsa yang bisa kita bawa ke developer.

Di saat developer khawatir ribet dengan izin prinsip dan segala rupanya, kita coba bantu dengan sistem ini. Jadi biarkan Telkomsel yang bekerjasama dengan UPoint.

Tugas Telkomsel adalah setelah developer ini jalan dengan UPoint, kita bisa trial dan bantu booster aplikasi yang dikembangkan ke pasar.

Izin prinsip diurus oleh UPoint, yang membedakan dengan industri ini sebelumnya adalah revenue share-nya yang wajar, bukan berarti lebih kecil. Kita lagi atur, kemungkinan ada di sekitar 65% untuk developer dan 35% untuk operator.

Sementara kalau langsung kerja sama dengan Telkomsel dengan mengurus izin prinsip sendiri bisa sampai 75 (developer)-25 (operator).

Kami juga coba bantu di tingkat regional dengan SingTel, di mana aplikasi yang menonjol di Indonesia kita menjualnya di regional SingTel Grup dan Telkom International (Telin).

Mereka punya chanel di beberapa negara yang bisa dijajaki. Jadi ada kemungkinan aplikasi lokal yang bagus dibantu pemasarannya lewat operator AIS di Thailand, Bharti Airtel India, SingTel Singapura dan lainnya.

Developer yang saat ini bergabung di TemanDev sudah lumayan banyak, 300-400 developer. Adapun produknya baru sekitar 100 aplikasi.

Diharapkan di tahun 2014 ini, dengan ada beberapa solusi untuk menghadapi tantangan industri, akan naik lagi. Seperti tak perlu memusingkan izin prinsip lagi.

Developer yang mau bergabung bisa cek ke www.temandev.com. Di sini developer bisa join dan memanfaatkan fasilitasnya, ada informasi soal flow kerjasama termasuk jika ada kendala teknis yang bisa dibantu dari forum.

Pastinya untuk join itu gratis. Bahkan nanti kami mau ada kerjasama dengan Sigma Cloud untuk memberikan bantuan virtual server bagi developer.




WRITE COMMENT
Name* :

E-mail* :

Website :

Comment :





BLOG CATEGORIES
FEATURES

Corporate Info features
2016-06-03

Corporate Info features
2016-06-02

Corporate Info features
2016-06-01

Corporate Info features
2016-05-31

Corporate Info features
2016-05-30

ARCHIVES