Smartphone yang Kian Merakyat

gadgetapps published over a year ago




"Smartphone mahal!" demikian alasan yang biasa disuarakan seorang pengguna feature phone ketika ditanyakan soal kenapa dia masih setia dengan ponsel basic tersebut.

Ya, smartphone awalnya memang identik sebagai barang mawah. Ponsel yang dilengkapi sistem operasi serta memiliki fitur dan fungsi untuk lebih membuat pengguna berlama-lama dengannya.

Image and video hosting by TinyPic" />


Namun seiring perkembangan zaman, smartphone tak lagi menjadi sesuatu yang sulit diraih. Sebaliknya, smartphone semakin merakyat.

Alasan 'smartphone mahal' rasanya sudah tak lagi bisa menjadi acuan. Sebab pada kenyataannya, harga yang ditawarkan para vendor terhadap ponsel pintar besutannya kian menggiurkan. Mulai dari Rp 2 jutaan, Rp 1 jutaan, atau bahkan sudah banyak yang di kisaran ratusan ribu rupiah.

Meski berada dalam kasta ponsel low-end, namun pada hakekatnya ia tetaplah smartphone. Dilengkapi layar sentuh, memiliki kamera, bisa internetan, serta bisa menjajal aplikasi lewat app store yang disematkannya.

Sebaliknya, feature phone tetaplah feature phone. Telepon genggam yang datang dari era terdahulu yang memiliki dua fungsi pokok: telepon dan SMS.

Berdasarkan data yang dirilis International Data Corporation (IDC), pada tahun 2012, feature phone masih mendominasi penjualan ponsel sejagat dengan kue sebesar 58,4%, berbanding 41,6% milik smartphone.

Baru di tahun 2013, kekuasaan feature phone disalip oleh smartphone. Dengan proporsi 50,1% berbanding 49,9%. Sudah bisa ditebak, selepas dari tahun 2013, dominasi smartphone sudah tak terbendung.

Dimana pada tahun 2014 ini, proporsi smartphone bakal semakin menjauh dari feature phone, yakni 55,4% berbanding 44,6%. Dan puncaknya diprediksi IDC bakal terjadi pada tahun 2017, dimana pangsa pasar smartphone bakal semakin jauh meninggalkan feature phone -- 66,4% berbanding 33,6% -- dan perlahan bakal terus ditinggalkan.

****keterangan gambar tabel IDC****

Kajayaan Masa Lalu Feature Phone
 
Smartphone adalah ponsel yang mempunyai sistem operasi dan aplikasi di dalamnya. Namun bukan berarti feature phone tidak bisa diandalkan. Terlebih bagi mereka yang kebutuhannya juga standar, untuk teleponan dan SMS-an.

Menurut Buzzcity, deretan negara yang menjadi tambang emas bagi feature phone adalah negara-negara yang berada di kawasan berkembang, seperti Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin.

Data Buzzcity mengungkapkan, pada tahun 2012, Nigeria adalah negara dengan proposi feature phone terbesar, 89%, menyusul Kenya dengan presentase 77%.

Indonesia juga masuk dalam daftar yang banyak memakai feature phone dengan tingkat proposi mencapai 70% pada tahun 2012.

Berikut daftar negara dengan proposi pengguna feature phone terbesar, menurut data Buzzcity pada tahun 2012:
-. Argentina 40%
-. Brasil 78%
-. India 77%
-. Indonesia 70%
-. Kenya 88%
-. Malaysia 46%
-. Meksiko 53%
-. Nigeria 89%
-. Rusia 46%
-. Afrika Selatan 70%
-. Thailand 40%
-. Turki 39%

Namun kembali lagi, kejayaan feature phone di negara-negara tersebut diproyeksi bakal tinggal menjadi kenangan masa lalu. Dimana serbuan smartphone murah diyakini bakal menjadi salah satu penyebabnya.

Negara Motor Smartphone

Pertumbuhan penetrasi smartphone di kawasan Asia Pasifik diproyeksi akan lebih tinggi dibandingkan pasar di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa yang mulai memasuki fase jenuh.

Menurut hasil riset Nielsen yang berjudul Decoding the Asian Mobile Consumer, negara-negara di Asia Pasifik diyakini akan mengalami tren pertumbuhan pesat dalam penggunaan ponsel cerdas.

Penetrasi smartphone terbesar terjadi di Hong Kong dan Singapura dengan pertumbuhan 87% dari populasi. Pertumbuhan terbesar kedua terjadi di Malaysia dengan 80%, disusul Australia 75%, dan China 71%. Sementara penetrasi di Thailand tercatat 49%, Indonesia 23%, India 18%, dan Filipina 15%.

Faktor merek, rekomendasi word of mouth, media sosial, dan fitur menjadi pertimbangan utama pembelian smartphone di kawasan Asia Pasifik dalam setahun terakhir.

Namun ada satu negara yang diprediksi bakal menjadi motor transisi dari feature phone ke smartphone, yaitu India. Pasalnya, penjualan feature phone di Negeri Bollywood tergolong tinggi, bahkan bila dibandingkan dengan China sekalipun.

Dari data IDC, sampai sepanjang tahun 2013, setidaknya ada 200 juta feature phone yang beredar di India. Bandingkan dengan China, dilaporkan masih mengapalkan 70 juta feature phone. Hal itulah yang membuat India berpotensi besar dalam melakukan transisi ke smartphone.

"Pertumbuhan di pasar India tidak bergantung pada perangkat high-end seperti iPhone, tetapi pada ponsel Android murah. Hampir setengah dari smartphone yang dikapalkan di India pada tahun 2013, harganya kurang dari USD 120," kata Kiranjeet Kaur, analis pasar senior untuk ponsel di IDC Asia Pasifik.

Riset IDC menunjukkan hampir setengah handset mobile yang dijual di seluruh dunia memiliki harga eceran kurang dari USD 100 tanpa pajak penjualan. Dua per tiga dari mereka memiliki harga kurang dari USD 50.

Lantas, bagaimana di Indonesia? Pertumbuhan smartphone memang terus menanjak dalam beberapa tahun terakhir. Dari laporan Badan Pusat Statistik, Indonesia tercatat mengimpor ponsel 15.338 ton lebih dengan nilai belanja USD 2,6 miliar di sepanjang 2013.

Pada tahun 2013, pengapalan ponsel di Indonesia tembus 48,6 juta unit. Dimana 10,9 juta di antaranya berasal dari segmen smartphone. Sementara sisanya -- atau sekitar 37,7 juta unit -- berasal dari pasar feature phone.

Memang, kekuasaan feature phone pun diyakini bakali kian tergerus pada 2014 di Indonesia. Dimana IDC memperkirakan pengapalan ponsel di Indonesia akan menembus angka 63,4 juta unit. Dari angka tersebut diproyeksikan 26% di antaranya berasal dari smartphone.




Tags :
WRITE COMMENT
Name* :

E-mail* :

Website :

Comment :

1 COMMENT
  • Ihsan

    over a year ago

    Smartphone sekarang sudah merakyat.. Hanya dengan satu-dua juta rupiah sudah dapat memboyong smartphone dengan spesifikasi yang cukup mempuni :)





BLOG CATEGORIES
FEATURES

Corporate Info features
2016-06-03

Corporate Info features
2016-06-02

Corporate Info features
2016-06-01

Corporate Info features
2016-05-31

Corporate Info features
2016-05-30

ARCHIVES