Feature: Pejuang Kehidupan Bekerja dalam Sunyi

corporate published 233 Days ago




Pejuang Kehidupan, Bekerja dalam Sunyi

Oleh: Andy F Noya

Pahlawan bukan hanya mereka yang namanya diserukan dengan lantang dan keberhasilannya dirayakan dalam gempita. Kerap, pahlawan-pahlawan justru adalah mereka yang dengan tekun bekerja dalam kesunyian. Menyentuh perkara-perkara yang luput dari perhatian orang banyak.

Di tengah-tengah tantangan mem­bangun bangsa, ada kisah dari sudut-sudut Indonesia yang membuat dian harapan di dalam hati kita menyala. Memang kita berkutat dengan persoalan transportasi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan beragam masalah lain. Tapi ada tangan-tangan yang bergerak untuk pelan-pelan mengurai kekusutan, bahkan menularkan semangat. Mereka memanfaatkan teknologi sebagai katalis perubahan sosial. Menciptakan peluang untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik.

Nun di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, cerita menggugah itu datang dari Sudirman (42). Itu bermula dari suatu hari pada Maret 2003. Ia yang berniat membangun rumah permanen sedang bersusah-payah mengangkut 50 sak semen dengan sepeda motor ke dusunnya di Kawerewere ketika di tengah jalan tebersit keinginan untuk melakukan hal lain.

Alih-alih menggunakan semen itu untuk membangun rumahnya, ia memilih untuk membuat alur air dan bak penampung air di Sungai Meno. Mimpinya dianggap muluk oleh sekitar. Membuat pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) untuk menerangi desanya yang masih gelap. Namun, kesungguhan selalu menemukan jalannya. Pada 2008, Sudirman bersama dengan penduduk lain berhasil membangun kincir berdiameter 3 meter yang menghasilkan listrik 3.000 watt. Semua rumah di Dusun Kawerewere yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Palu dapat diterangi listrik.

Perjuangan untuk kemaslahatan orang banyak itu juga dirintis Bambang Erbata Kalingga (46) yang bermukim Tangerang, Banten. Kegeramannya pada hasil-hasil pertanian yang tidak ramah kesehatan dan lingkungan mendorongnya menciptakan peralatan agraria hemat energi dan sistem pertanian natural tanpa bahan kimia. Ia menyosialisasikan alat rekaannya, pompa air Archimedes, kepada petani-petani di berbagai penjuru Indonesia. Pompa ini dapat mengalirkan air ke sawah yang posisinya lebih tinggi daripada sungai tanpa BBM atau listrik.

Dari Ternate, kita akan mendengar kisah Amrul Sadik Daga (46), seorang petugas kesehatan yang berinisiatif menyelesaikan persoalan limbah kesehatan. Pada 2004, ia mencoba membuat insinerator sederhana untuk menghancurkan limbah kesehatan seperti kapas, jarum suntik, botol infus, dan selang infus bekas. Ia juga menjemput sendiri limbah-limbah itu dari sejumlah puskesmas dengan sepeda motor tuanya. Pada 2008, Pemkot Ternate menyediakan bagi Amrul satu insinerator bervolume lebih besar dan meminjamkan satu mobil pengangkut limbah.

Kepedulian akan masalah kemanusiaan juga datang dari Endri Susanto (30). Ia yang berhuni di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, melihat di sekitarnya ada ratusan orang menderita beragam penyakit yang jarang diketahui publik. Sebagian besar dari keluarga miskin yang tidak punya biaya untuk berobat. Lewat media sosial, Endri menggalang partisipasi dan menemukan donatur untuk si sakit. Ia juga bisa menjaring sponsor dari beberapa negara. Dengan upaya itu, sejumlah penyandang disabilitas terbantu dan pasien dari keluarga tidak mampu mendapatkan akses pengobatan.


FOTO: EDWARD SUHADI; TIM MAKEUP ARTIST; REGINA PANGESTU, NUR CHAYATI, TRESNA ENDAH)


Yayan Tahyan (58), pensiunan Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, terus mengabdi untuk dunia pendidikan setelah ia purnakarya. Ia mendirikan Toko Bale Asih yang menyediakan keperluan sekolah anak, mulai dari alat tulis, buku pelajaran, sampai seragam secara gratis. Toko ini memang dibangun untuk membantu anak yatim dan warga kurang mampu. Siapa saja boleh mengambil yang dibutuhkan hanya dengan bermodal kejujuran. Bale Asih juga menyediakan perpustakaan untuk anak-anak sekolah dan materi belajar daring yang disiapkan Yayan bersama mitranya dari Siapbelajar.com.

Utamakan kemanusiaan

Lima orang yang disebut di atas hanyalah segelintir dari mereka yang berkarya untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Suatu langkah yang baik bahwa apresiasi diberikan kepada mereka, salah satunya lewat Anugerah Telkomsel. Bekerja sama dengan harian Kompas, Telkomsel memberi penghargaan bagi 21 sosok inspiratif pilihan. Seperti tema HUT ke-21 Telkomsel yaitu “Bikin Keren Indonesia”, sosok-sosok ini memang makin membuktikan, bangsa ini sedang bekerja mencapai perubahan.

Orang-orang yang mendapat penghargaan Anugerah Telkomsel adalah pahlawan-pahlawan yang bekerja dalam sunyi. Dengan segala keterbatasan—baik ekonomi, pendidikan, maupun akses pada sumber pendanaan—mereka tetap bergerak. Mereka menjadi istimewa karena di tengah masyarakat yang sekarang makin materialistis, nilai kebendaan mereka tempatkan pada urutan ke sekian. Bagi mereka, nilai kemanusiaanlah yang patut mendapatkan tempat tertinggi.

Tantangan yang mereka hadapi tentu tidak ringan. Cibiran sampai ancaman nyawa menjadi bagian cerita yang sering lekat pada pejuang-pejuang kehidupan seperti mereka. Mereka juga bekerja jauh dari keinginan publisitas dan penghargaan materi maupun gelar. Hanya orang-orang “terpanggil” yang akan bertahan dan tak lekang oleh zaman.

Kebahagiaan mereka yang tak tidak bisa dibeli dengan apa pun adalah ketika melihat perubahan positif terjadi pada orang-orang yang mereka bantu. Bahwa kemudian kisah mereka mendapat pengakuan dan penghargaan dari masyarakat, itu sekadar konfirmasi bahwa apa yang mereka lakukan bermanfaat.

Kisah-kisah inspiratif semacam ini tentu baik dipublikasikan secara luas supaya menjadi virus positif yang menyebar dan mengetuk hati banyak orang untuk melakukan hal-hal positif. Virus kebaikan ini sangat dibutuhkan di tengah maraknya berita korupsi, perkosaan, pembunuhan, serta hiruk-pikuk pertikaian politik yang destruktif dan menguras energi bangsa kita dalam upaya bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Untuk menjadi cahaya bagi orang-orang sekitar, kita tidak harus menunggu. Kita sudah bisa memulai dengan apa yang kita miliki sekarang. Sekecil apa pun itu. Sebab keteladanan sudah diperlihatkan Amrul Sadik Daga, Sudirman, Yayan Thayan, Endri Susanto, Bambang Erbata Kalingga, dan pejuang-pejuang kehidupan yang mendapat penghargaan Anugerah Telkomsel.

Andy F Noya
Jurnalis

@kompasklass #budiluhur

Dikutip dari Harian Kompas edisi Selasa, 31 Mei 2016.




WRITE COMMENT
Name* :

E-mail* :

Website :

Comment :





BLOG CATEGORIES
FEATURES

Corporate Info features
2016-06-03

Corporate Info features
2016-06-02

Corporate Info features
2016-06-01

Corporate Info features
2016-05-31

Corporate Info features
2016-05-30

ARCHIVES