Cerita BikinKerenIndonesia dari Ivan Loviano

corporate published 104 Days ago




Indonesia dengan beribu pulaunya menyimpan banyak cerita tentang ragam kehidupan masyarakat dan keindahan alam yang kaya akan inspirasi. Dalam perjalanan Ivan Loviano (@iphann), Barry Kusuma (@barrykusuma), Susan (@pergidulu), dan Toro (@cumilebaycom) ke Labuan Bajo dan Ruteng, mereka menemukan bagaimana akses telekomunikasi menghadirkan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat di sana, dan bagaimana berbagai cerita dari tempat eksotis di Pulau Flores tersebut pun dapat menginspirasi kita semua untuk #BikinKerenIndonesia.

Cerita #BikinKerenIndonesia dari Ivan Loviano

Bab Labuan Bajo

Tanah Dewata menyambut jiwa yang rindu dengan rumah. Tapi kali ini saya tidak melabuhkan pelukan ke ibunda di beranda rumah, karena sebuah tiket pesawat lanjutan akan menerbangkan saya kembali menuju Timur Indonesia, tempat di mana pertiwi masih menyimpan pesonanya yang bersahaja: Labuan Bajo.

Teriknya matahari timur begitu tegas menyambut saya, Barry Kusuma, Susan ‘Pergi Dulu’, Cumilebay, Gria, dan Pudel yang tiba di Bandar Udara Labuan Bajo, NTT dengan menggunakan pesawat kecil dari Bali. Sinyal handphone yang nampak penuh dengan jaringan 4G cukup melegakan saya. Beberapa urusan duniawi mengharuskan saya tetap terhubung dengan pikuknya ibukota.

Seorang perempuan seumuran saya dengan garis muka tegas menyambut kami dengan senyum sumringah di pintu kedatangan. Kulit coklat eksotisnya terekspos jelas dan terlihat kontras dengan kaos longgar putih tanpa lengan yang ia kenakan. Tinae Siringoringo, perempuan berdarah Batak yang punya cerita tidak terlalu panjang hingga akhirnya bisa menetap di sini dan mengajak kami menjelajah NTT.

Dengan sigap, Tinae memanggil 2 mobil yang sudah menanti kehadiran kami, memuat semua barang bawaan, dan melaju menuju pelabuhan Labuan Bajo.

Senja di Aqua Luna



Kapal semi pinisi, Aqua Luna menjadi rumah kami selama 2 hari. Ada 5 kamar dengan kapasitas masing-masing 2 orang yang bisa kami pakai untuk tidur. 3 diantaranya sudah dilengkapi dengan AC. Lebih dari cukup untuk mengakomodir saya menaruh barang dan tidur di malam hari. Spot favorit saya adalah bagian deck depan kapal yang sudah dilengkapi dengan matras dan bantal-bantal warna-warni. Tidak menunda waktu, Aqua Luna perlahan menjauhi dermaga menuju lautan Flores.



Masakan rumah ala awak kapal menjadi sajian siang yang lezat selama kami tinggal di kapal. Menyenangkan sekali makan seafood dengan melihat birunya Indonesia. Cumilebay berhasil menghangatkan suasana dengan gurauan manjanya. Pudel dan Tinae sibuk berbagi cerita kehidupan setelah mereka berpisah berbulan-bulan yang lalu. Cerita-cerita mereka sungguh menarik untuk di simak. Sesekali saya membuka handphone, memeriksa email dan media sosial lainnya. Maklum, bagaimanapun juga saya masih anak kota yang belum bisa lepas dari sentuhan teknologi dan internet. Semakin jauh, sinyal semakin fluktuatif. Ada beberapa spot di mana kita masih bisa mengakses data dengan kecepatan 4G, tapi ada beberapa daerah yang hanya bisa melakukan panggilan telepon saja. Sejauh ini, hanya Telkomsel yang sinyalnya paling bisa diandalkan di pelosok timur Indonesia.



Hari semakin sore, kapal kami berlayar menuju Pulau Kalong. Saya duduk di atas deck kapal sebelah ruang nahkoda. Tinae sesekali menggoda awak kapal dengan guyonan lokal. Saya duduk mengamati mereka sambil menikmati terpaan angin laut yang lembab.

“Jadi setelah kuliah di Kupang, kamu pindah ke sini?” Tanya saya membuka perbincangan. “Nggak langsung. Saya sempat kembali ke Jakarta dulu sebelum akhirnya memutuskan tinggal di sini,” Jawab Tinae. Sepanjang sore ia bercerita bagaimana ‘panggilan hidup’ ini bisa membawanya kembali ke sini, meninggalkan segala modernitas di pulau Jawa, menolak kenyamanan-kenyamanan masyarakat urban, dan memilih lebih dekat dengan alam. “Sekarang kerjaan aku kan bawa tamu yang datang ke Labuan Bajo, dan terbantu banget sejak ada instagram,” tambah Tinae. Tren ngebolang memang semakin populer sejak instagram selalu menampilkan foto-foto pemandangan cantik dari penjuru dunia, seolah memaksa kita untuk bisa menghasilkan foto yang serupa. Daerah Labuan Bajo ini salah satunya yang terkenal efek instagram. Sejak Pulau Padar tiba-tiba booming di Instagram sebagai “hot spot” buat foto, banyak wisatawan domestik dan internasional datang untuk melihat langsung keindahan alam di sini secara langsung. Tinae dan kawan-kawan pun melihat ini sebagai potensi bisnis pariwisata yang bisa dikembangkan. Bermodalkan internet dan instagram @eastip, ia memasarkan jasa paket wisata menikmati keindahan timur Indonesia.

Pulau-pulau hijau perlahan berubah menjadi siluet kehitaman. Aqua Luna melambatkan lajunya. Kami tiba di Pulau Kalong, tempat di mana ratusan (mungkin ribuan) kalong yang bermukim keluar dari peraduaannya di saat senja. Awan kelabu menjadi latar mahluk-mahluk malam ini terbang di udara. Membangkitkan imajinasi kalau saya ada di markas Batman. Matahari sudah lama hilang. Yang tersisa hanya lampu-lampu kapal yang tersebar di sekitar pulau.

Padar, dan Pendar Merah Jambu



Gelombang laut pagi menggoyangkan Aqua Luna. Membangunkan saya yang lelap dalam bunga tidur. “Menuju Pulau Padar ini memang agak menantang, karena banyak arus laut,” terang Tinae. Selama beberapa waktu kami berusaha melewati gelombang sebelum akhirnya sampai di perairan tenang dan tiba di Pulau Padar.



Ternyata sudah ada 2 atau 3 kapal pelancong yang lebih dulu tiba sebelum kami. Tapi menurut awak kapal, ini masih sepi karena biasanya lebih banyak lagi kapal yang tiba.

Kami disambut oleh tangga-tangga kayu Pulau Padar yang dibangun belum lama ini karena ada pejabat pemerintahan yang hadir berkunjung. Tapi tangga kayu itu hanya beberapa puluh meter saja dari bibir pantai. Kami perlu sedikit trekking untuk sampai ke atas (dan bisa dapat spot foto yang bagus). Saya, Pudel, dan Gria berhasil sampai puncak! Segeralah kami foto-foto dan posting di media sosial karena hanya di Puncak Padar, kita bisa mendapat sinyal. Pulau ini memang sangat photogenic dalam banyak angle. Wajar, jika kini banyak orang yang datang untuk berfoto-ria. Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, kalau di sini ada beberapa ekor komodo yang sengaja dibuang dari habitat aslinya karena terlalu ganas. Ya, sebelum terkenal oleh turis, pulau Padar memang dijadikan pulau pembuangan komodo yang ganas dan berbahaya. Sampai sekarang spesiesnya masih ada entah di bagian pulau yang mana.



Setelah puas menikmati Pulau Padar, kami kembali ke Aqua Luna untuk sarapan dan bergerak menuju Pink Beach. Sayangnya, pantai yang terkenal itu sudah ramai dikunjungi orang sehingga kami memutuskan untuk pindah ke pantai berpasir merah jambu yang masih sepi. Ini kenapa saya merekomendasikan mengajak guide lokal seperti Tinae untuk trip semacam ini, karena dia tahu “hidden gem” yang belum banyak diketahui oleh pelancong. Sampailah kami ke Pulau Mauwang di kawasan Taman Nasional Komodo. Tidak ada orang lain selain kami di pulau ini! Dan oh iya... pasirnya berwarna putih dengan butiran-butiran merah sehingga kalau dari jauh berwarna pink! Saya sibuk foto-foto dan berjemur hingga sore, sebelum kami pindah ke hidden spot lainnya: Pulau 9!

Penghuni Pulau 9



Tidak seperti pulau lainnya, Pulau 9 ini terdiri dari tumpukan karang yang jika dari atas berbentuk angka 9. Nah di lubang tengahnya, terdapat lumut & ganggang laut dan ubur-ubur yang terisolasi dari lautan sekitarnya. Untuk berenang dan snorkeling di dalamnya pun sedikit tricky. Kita tidak dianjurkan untuk terlalu banyak bergerak karena dasarnya yang dangkal, sehingga kalau terlalu banyak gerak air akan menjadi keruh karena lumut dan ganggang akan naik ke permukaan. Badanpun akan terasa gatal-gatal. Tapi... di sini terdapat ratusan ubur-ubur mungil dengan warna biru menyala. Kalau Tinae bilang ‘blue fire’. Puas melihat ubur-ubur, kami kembali ke Aqua Luna dan berlayar menuju Pelabuhan Labuan Bajo.

Malam Manja di Labuan Bajo

Lampu-lampu pelabuhan menyambut kepulangan kami dari lautan. Sebuah restoran Indonesia di sekitar pelabuhan menjadi penyelamat perut yang sudah mulai protes. Sinyal Telkomsel kembali penuh menjanjikan. Semua orang sibuk dengan layarnya masing-masing. Sebuah dunia baru bernama telepon genggam itu begitu lekat tak terpisahkan dari kehidupan kami, manusia-manusia kota. Membalas pesan dari kerabat, kolega kantor, membalas email kerjaan, memposting beragam keriaan kami di media sosial, hingga memutar musik melalui spotify. Kami berasa tetap dekat dengan dunia kami di Jakarta walaupun sebenarnya terpisahkan ribuan kilometer.

Di salah satu sudut meja, Tinae sibuk menelepon beberapa orang yang saya yakini sedang mengurus persiapan perjalanan esok. Bersyukur sekali di sini tidak terlalu susah sinyal untuk berkomunikasi. Masyarakat jadi semakin mudah terhubung satu sama lainnya. Beragam peluang juga lebih banyak terbuka untuk mereka.

“Because You know I’m all about that bass

‘bout that bass, no treble
I’m all about that bass
‘bout that bass, no treble
I’m all about that bass
‘bout that bass, no treble
I’m all about that bass
‘bout that bass... bass... bass...”

Dari arah belakang saya, sebuah group band bervokalis pria menyanyikan lagi Meghan Trainor. Sontak kami memutarkan badan semua ke arah datangnya musik. Beruntungnya kami, ternyata di malam-malam tertentu, restoran menyediakan live band sebagai hiburan. Malam ini pun semakin ramai... dan terlalu manja untuk segera dilalui.

Lika-Liku Cunca Rami



Sudah lebih dari 30 menit kami melalui jalan berliku-liku membelah pegunungan Flores. Kami tengah menuju sebuah air terjun Cunca Rami yang dalam bahasa lokal berarti air terjun di tengah hutan.

Kami memasuki jalanan yang lebih kecil, pohon-pohon yang lebih rapat. Anak-anak kecil berlarian di samping mobil kami. Menyapa dengan lambaian yang mengayun antusias dan senyum sumringah sangat ramah. Cahaya-cahaya matahari bersusah payah menerobos pepohonan tinggi, memberikan harapan kepada siapapun yang terlindung di bawahnya. Gemercik air dari anak-anak sungai seolah merasa belum puas memberikan keindahan lanskap pedesaan Flores yang kami datangi ini.



Setelah beberapa lama, kami berhenti di sebuah rumah penduduk yang seberangnya terdapat jalan setapak menuju air terjun. Dengan tambahan 2 penduduk lokal, rombongan sirkus kami pagi ini berjalan mantap menuju lokasi air terjun. Jalannya mudah-mudah sulit. Karena baru habis hujan, banyak jalan setapak yang becek dan licin. Membuat kami jadi lebih ekstra hati-hati dalam melangkah. Sesekali kami melewati anak sungai yang jernih. Ajang buat kami membasuh kaki penuh lumpur dan tanah, walau kami tahu kaki-kaki ini akan kembali kotor dalam beberapa langkah saja. Dan perjalanan penuh perjuangan itu pun terbayar dengan sangat mahal! Sebuah air terjun cantik tersembunyi di balik hutan-hutan dan bebatuan. Udara segar, air sedingin es, menjadikan suasana saat itu persis seperti gambaran sebuah pedesaan di buku pelajaran Bahasa Indonesia semasa kecil yang sangat jarang bisa kita temukan kembali di tanah Jawa.

Hijau Royo-Royo Lembor & Cancar



Lagu-lagu campur aduk dari playlist Pudel menemani perjalanan kami ke Lembor. Mulai musik-musik Indonesia 90an, hingga Sweet R&B awal 2000an, sampai top 40 yang hits beberapa dekade silam. Sepanjang jalan kami karoke (dan juga tidur) hingga saya tertegun ketika menatap ke luar jendela. Hamparan sawah yang nyaris tidak bisa dilihat ujungnya menyapu pandangan saya di kanan dan kiri. Mendorong saya untuk berhenti sejenak dari mobil untuk mengambil beberapa gambar. Itu adalah sawah daerah Lembor, salah satu persawahan terluas di Flores sini. Bentuknya menyerupai terasering di Bali Cuma dalam kapasitas yang lebih masif.



Beda halnya dengan persawahan Cancar yang saya lihat keesokan harinya. Anak tangga yang terjal mengawali pagi saya untuk mencapai puncak bukit. Bukit dengan lokasi pemandangan terbaik melihat petak persawahan di Cancar. Apa bedanya dengan kompleks sawah terbesar yang kemarin saya lihat? Persawahan di Cancar ini berbentuk lingkaran-lingkaran raksasa yang menyerupai jaring laba-laba. Setiap sekat dimiliki oleh keluarga yang berbeda-beda dari desa sekitar. Ini adalah upaya pemerintah untuk melakukan pemerataan. Setiap keluarga bertanggung jawab atas petah sawah miliknya, dan nanti hasil buminya akan dijual untuk keuntungan pribadi. Bibit, pupuk, dan distribusinya akan dibantu oleh pemerintah dan pedagang setempat.

Halo Todo



Masih menyisakan buai kagum dengan hijaunya Lembor & Cancar, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Todo sebelum kembali ke Labuan Bajo. Desa Todo ini termasuk desa tua di Manggarai, Flores. Ini adalah pusat dari semua kebudayaan Manggarai sebelum pindah ke Ruteng saat penjajahan Belanda. Awal mulanya, Manggarai dikuasai oleh 3 kerajaan: Kerajaan Goa dari Sulawesi, Bima dari NTB, dan Todo. Tapi kemudian, Todo berhasil menguasai Manggarai.

Di desa Todo ini terdapat 3 warisan penting yang berasal dari kerajaan Todo: Rumah Niang yang merupakan rumah induk dan sudah ada sejak ratusan tahun silam, yang kedua adalah gendhang yang terbuat dari kulit perut manusia (iya kulit perut manusia!), dan yang ketiga adalah Gong yang dikenal dengan sebutan Wuka.



Ada cerita legenda tentang gendhang yang terbuat dari kulit manusia ini. Dulu ada seorang raja yang menyukasi satu gadis cantik di desa. Si raja hendak mempersunting perempuan tersebut, tapi sang hawa menolak. Rajapun murka, dan memerintahkan untuk membunuh perempuan tersebut karena tidak rela jika sang idaman jatuh ke dalam pelukan laki-laki lain. Akhirnya kembang desa tersebut dieksekusi, yang kemudian kulit perutnya diambil untuk dijadikan gendhang yang kini masih ada sebagai barang warisan penting desa Todo.

Cerita ini cukup membuat badan saya hangat di udara yang cukup sejuk di desa Todo. Selain itu, beruntungnya saya ada pedagang bakso keliling asal Solo yang kebetulan sedang melewati desa ini untuk berjualan. Dengan berbekal sebuah motor dan featured phone, sang penjual bakso (yang saya lupa namanya) berani merantau dan berkeliling desa di Flores untuk berjualan bakso. “Setiap lebaran saya pasti balik Solo kok mas. Kalau kangen keluarga ya tinggal telepon. Kan sekarang gampang kalau mau telepon” ungkap si mas penjual bakso.

Matahari semakin condong ke Barat. Kami berpamitan dengan Desa Todo untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Labuan Bajo.

Setiap perjalanan pasti membawa cerita yang berbeda. Kadang kita harus kehilangan sesuatu, di waktu lainnya kita menemukan yang lebih berarti. Perjalanan ke Labuan Bajo ini memberikan saya sebuah pandangan lain. Tinae mengajarkan saya bahwa keberanian itu bukan sekadar berani mengarungi lautan dan tinggal di pulau lain jauh dari kampung halaman. Tapi juga keberanian itu tercermin ketika kita berhasil mengambil keputusan serta memanfaatkan peluang yang ada. Teman-teman perjalanan saya juga mengajarkan, peluang itu muncul dari sebuah tali silaturahmi. Tidak ada yang tahu, teman kita ternyata punya teman atau kerabat yang mungkin akan berhubungan dengan kita suatu hari nanti. Betapa silaturahmi dan menjaga komunikasi itu penting untuk tetap terhubung dengan satu sama lain. Sampai berjumpa lagi Flores.

Sumber:

http://www.ivanloviano.com/2016/12/28/bab-labuan-bajo/


http://www.ivanloviano.com/2017/01/03/bab-halo-desa-todo/




WRITE COMMENT
Name* :

E-mail* :

Website :

Comment :





BLOG CATEGORIES
FEATURES

Corporate Info features
2016-06-03

Corporate Info features
2016-06-02

Corporate Info features
2016-06-01

Corporate Info features
2016-05-31

Corporate Info features
2016-05-30

ARCHIVES